Senin, 01 Oktober 2012

Speech Delay, Anak Terlambat Bicara


Faiz usianya sudah 2 tahun, tetapi bicaranya masih belum lancar. Belum bisa membentuk satu kalimat utuh. Misalnya, air -> ai, lampu -> apu, ikan -> ika, bendera -> eya, susu ultra -> uu Tak. Tapi belum bisa bilang “bunda faiz mau makan”. Karena penasaran, akhirnya konsul sama DSA, dan disarankan untuk membawa faiz ke Klinik Tumbuh Kembang Anak di RS Hermina Podomoro.  Kami ke klinik tumbuh kembang bertiga, Faiz, Bundanya, dan Neneknya Faiz. Dari awal masuk ke Hermina, kayanya faiz udah mulai familiar sama suasananya. Karena kalo kontrol atau imunisasi kan dia di situ. Jadi bawaannya kalo masuk Hermina tuh disuntik. Makanya waktu ke meja pendaftaran, faiz udah sibuk nunjuk-nunjuk ke arah pintu keluar.. hehe minta pulang dia. apalagi waktu ditimbang, wah, nangis kejer faiz. Udah kaya disuntik aja.

Di klinik tumbuh kembang anak, kita semua duduk di matras. Faiz diperiksa oleh 2 orang dokter. Dokter dian dan dokter Trulli. Masing-masing dokter pegang form penilaian. Dokternya ramah-ramah. Tapi, karena itu pertama kalinya faiz ketemu, jadi nangis kejer pula lah si faiz. Dokternya mulai keluarin berbagai macam mainan. Bola, krayon, kartu bergambar, dll. Setelah dirayu-rayu, dan bundanya gambar berbagai macam hewan, baru faiz udah mulai tenang. Dokternya mulai tanya-tanya. Ringkasnya, begini pertanyaan dokternya:
Dokter: faiz udah tau dan bisa mengucapkan berapa benda?
Saya: (melirik neneknya faiz dulu, soalnya sehari-hari kan faiz lebih sering sama neneknya karena bundanya kerja).. berapa ya? Udah banyak si Dok, tapi belum jelas . (saya contohin cara faiz mengucapkan benda-benda).

Lalu dokternya ngetest faiz.. Di jejer kartu bergambar di lantai, lalu dokternya bilang, faiz, mobil mana? Alhamdulillah faiz ngerti dan mengambil kartu yang bergambar mobil. Apel mana, lalu faiz ambil gambar apel. Lalu faiz diberi kartu gambar kelinci, dokternya minta faiz sebutin gambar apa itu. Faiz ambil kartu dari dokternya lalu bilang “nci”. Bundanya yang translate, kelinci dok maksudnya. Lalu faiz diberi tepuk tangan. Faiz ikut tepuk tangan. Setelah beberapa kali diberi kartu bergambar dan faiz bisa menyebutkan nama gambarnya (meskipun belum jelas). Sesinya masuk ke tanya jawab seputar kemandirian.

Dokter: faiz udah bisa pegang sendok sendiri kalo makan?
Bunda: (lagi-lagi lirik nenek) udah bs belom ya nek? Belom pernah dicoba dok.
Dokter: kalo lepas baju atau pake baju sendiri?
Bunda: saya belom pernah ajarin dok.. biasanya faiz baju dipakein.
Dokter: kalo pake sepatu udah bisa?
Bunda: belom pernah saya ajarin juga dok.. (ampuun dah ketahuan banget si ni bundanya faiz saking sibuknya ampe gak sempet ngurus anak).
Dokter: kalo minum udah bisa pake cangkir dan pegang cangkir sendiri?
Bunda: nah kalo yang itu udah bisa dok. Bisa pegang cangkir. Minum pake sedotan juga udah bisa. (yang ini jawabnya dengan PD).
Sekarang faiznya udah mulai santai. Udah mau nunjuk bola, ambil bola sendiri. Dan sibuk gambar-gambar pake krayon, sampe keluar dari kertas gambar jadi matrasnya juga ikut dicorat-coret.

Lalu dokter melakukan tes lagi ke faiz. Sambil memegang kartu bergambar kelinci dan mobil. “Faiz, coba gambar kelincinya kasih nenek, terus gambar mobilnya kasih bunda”. Awalnya faiz diam aja. Lalu dokternya ulangi, “gambar kelincinya kasih nenek” lalu faiz mulai ambil gambar itu dan dikasih ke nenek. Lalu kata dokternya lagi ”gambar mobilnya kasih bunda” lalu faiz ambil kartu gambar mobil dan dikasih ke bundanya”. Lalu faiz diberi tepuk tangan lagi. Biasa, kalo ada orang tepuk tangan, faiz ikutan tepok tangan sambik bilang “oee” (baca : horee).

Gak terasa Sesi pemeriksaan udah berlangsung sekitar 50 menit. Lalu dokter dian dan dokter trulli mulai menghitung nilai di form penilaian. Berikut penjelasan dokternya.
“Faiz dari segi kemampuan afektif (memahami perintah, berinteraksi, mengenali benda, dll) tidak ada masalah. Tetapi memang kemampuan berbicaranya agak terlambat. Karena kurang stimulus. Saya tanya sama dokternya, apakah ada pengaruh karena jatuh, karena faiz pernah jatuh dari tempat tiduk waktu usian sekitar 9 bulanan. Kata dokter, kalau waktu jatuh anak tidak pingsan atau tidak mengalami gangguan kesadaran, maka peristiwa jatuhnya itu tidak berpengaruh ke otak.. Alhamdulillah, awalnya saya khawatir kalo ada sesuatu di otak faiz karena pernah jatuh. Saya ceritakan ke dokternya, kalo faiz suka sekali main HP dan Tab. Faiz sudah bisa membuka kunci, mencari game, dan keluar dari game. Paling suka game menggambar yang corat-coret atau mewarnai di Galaxy Tab punya bundanya. Dokter menyarankan untuk mengurangi frekuensi main HP dan Tab. Agar faiz dilatih oromotoriknya, lidah, bibir, pipi. Menurut dokter, otot yang digunakan saat makan, sama dengan oto yang digunakan untuk bicara. Jadi, agar faiz bisa lancar bicaranya, sering-sering juga dilatih oromotoriknya sambil terus diajak bicara. Kalau perlu, satu kata diulang hingga 15 kali. Menurut penilaian dokternya, kemampuan bicara faiz setara dengan anak usia 21 bulan, sedangkan faiz saat ini sudah berusia 25 bulan. Jadi, untuk mengejar ketinggalan, faiz dijadwalkan terapi wicara dua kali seminggu di Klinik Tumbuh Kembang Anak Hermina Podomoro selama tiga bulan.
Mudah-mudahan, terapinya faiz berjalan lancar dan faiz dapat segera lancar berbicara..  kalo para Bunda di luar sana ada cerita yang bisa di sharing, monggo. Semoga pengalaman saya ini juga bermanfaat buat para bunda lainnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar